Senin, 10 Agustus 2026
Breaking News
Wisata & Budaya

Rawat Warisan Leluhur, Yayasan Mazro’atul Ulum Citiis Gelar Pagelaran Seni Budaya Pencak Silat Pagar Nusa

Anan | | 3 mnt baca
Rawat Warisan Leluhur, Yayasan Mazro’atul Ulum Citiis Gelar Pagelaran Seni Budaya Pencak Silat Pagar Nusa
Bagikan:

PAGELARAN, CIANJUR** – Dalam rangka memperkuat identitas budaya bangsa dan membentengi generasi muda dari dampak negatif globalisasi, Yayasan Pendidikan Mazro'atul Ulum Citiis, Pagelaran, menggelar acara "Pagelaran Seni dan Budaya Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (NU)", Sabtu (20/6/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini mengusung tema besar: *“Pagar Nusa dan Generasi Berbudaya: Merawat Warisan, Menguatkan Identitas, Menyongsong Masa Depan”*. Acara ini dihadiri oleh ratusan wali murid, santri, tokoh masyarakat, serta jajaran pengurus struktural NU.

 

Pimpinan Yayasan Pendidikan Mazro'atul Ulum Citiis, KH. Asep Ismail, S.Pd.I, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini di lingkungan yayasan.

 

"Kami sangat mengapresiasi ikhtiar panitia. Selain sebagai pelestarian budaya, acara ini menjadi ajang silaturahmi yang efektif bagi para orang tua murid. Melalui kegiatan ini, kami berharap para santri dan wali murid semakin mencintai Nahdlatul Ulama serta memperkuat soliditas antar siswa," ujar KH. Asep Ismail.

 

**Sinergi Pagar Nusa dan Filosofi Maenpo Cianjur**

 

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cianjur, Ustadz Asep Sopyan Halim, yang juga bertindak sebagai penyusun materi kebudayaan dalam kegiatan ini.

 

Dalam pemaparannya, Ustadz Asep Sopyan Halim menjelaskan bahwa Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa merupakan seni bela diri resmi yang lahir dan tumbuh di lingkungan pondok pesantren NU sejak 3 Januari 1986. Secara filosofis, nama "Pagar Nusa" memiliki arti penting sebagai benteng pelindung.

 

"Pagar Nusa bermakna memagari atau melindungi NU, yang berarti menjaga pesantren dan para ulama, serta melestarikan syiar Islam. Sedangkan 'Nsa' (Nusa) berarti menjaga Bangsa. Tugas utama pendekar Pagar Nusa adalah menjaga ulama, agama, bangsa, serta mempertahankan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegas Ustadz Asep.

 

Lebih lanjut, ia mengaitkan eksistensi Pagar Nusa dengan kearifan lokal masyarakat Cianjur yang bertumpu pada tiga pilar budaya, yaitu *Ngaos* (membaca Al-Qur'an), *Mamaos* (seni tembang Sunda), dan *Maenpo* (seni bela diri khas Cianjur).

 

"Jika *Ngaos* membentuk kecerdasan spiritual dan *Mamaos* membentuk kehalusan rasa serta budaya, maka *Maenpo* bersama Pagar Nusa hadir untuk membentuk ketangguhan karakter. Ini adalah perpaduan sempurna antara dzikir, pikir, dan ikhtiar di pesantren," tambahnya.

 

**Media Edukasi dan Dakwah Kultural**

 

Acara diisi dengan demonstrasi publik seni bela diri oleh para santri dan pendekar Pagar Nusa. Gerakan-gerakan jurus yang dinamis, penuh disiplin, namun tetap mengedepankan etika dan adab mengundang decak kagum para hadirin.

 

Demonstrasi ini bukan sekadar pertunjukan kekuatan fisik, melainkan media edukasi untuk menunjukkan bahwa pencak silat—yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2019—mengutamakan akhlak mulia, sportivitas, dan pengendalian diri.

 

Melalui pagelaran budaya ini, Ponpes Mazro'atul Ulum Citiis menegaskan komitmennya bahwa pesantren tidak hanya fokus mencetak ahli agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga aktif melestarikan kebudayaan Nusantara yang moderat, toleran, dan berakar kuat pada tradisi bangsa. **(Rls/Red)**

 

Komentar (1)

D

Dilan

1 bulan yang lalu

Kami para santri khusus nya santri Mazro'atul Ulum Citiis berani bersaing dari segi manapun🔥